Jumat, 04 Februari 2011

Komoditas ternak Domba


Sistematika
Menurut Blakely (1991), sistematika ternak Domba yaitu :
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Mammalia
Ordo : Bovidae
Genus : Ovis
Spesies : Ovis canadenis
Ovis aries

Asal-usul dan Bangsa
Domba sudah lama diternakkan orang, hanya sedikit yang dapat kita ketahui asal-usul dilakukannya seleksi dan domestikasi domba. Domba dianggap dari keturunan jenis liar seperti meufion, yaitu sejenis domba yang berekor pendek. Varietas-varietas yang terdapat di Eropa dan Asia adalah merupakan stok dasar untuk menghasilkan woll, daging, kulit serta susu (Blakely and David, 1991).

Berkembangan kegiatan perajutan dan permintaan sebagai bagian dari perkembangan kehidupan manusia, muncullah jenis dan bangsa-bangsa domba yang baru sebagai penghasil woll yang berkualitas, tentu saja dengan mengorbankan beberapa sifat yang lain. Domba Merino dari Spanyol adalah domba yang dikembangkan menjadi salah satu bangsa penghasil woll yang bagus (Blakely and David, 1991).

Domba merupakan ternak yang pertama kali di domestikan, dimulai dari daerah kaspia, Iran, India, Asia Barat, Asia Tenggara, dan Eropa. Salah satu jenis domba yang di Indonesia adalah domba ekor tipis (Salamena, 2003).


Domba  asli Indonesia


Mempunyai badan yang kecil, lambat dewasa, warna  bulu dan tanda lain tidak seragam, dan dagingnya sedikit sekali

Domba Ekor Gemuk. Berasal dari Indonesia bagian timur (Madura, Sulawesi dan Lombok). Jantan bertanduk sedangkan betina tidak, ekornya panjang, lebar dan mampu menimbun lemak yang banyak sehingga ekor menjadi sangat besar, tetapi diujung ekor tipis, karena disini tidak terdapat penimbunan lemak (Sastroamidjojo, 1983).

 

Domba import



Domba Merino. Berasal dari Spanyol, bulu  tebal,  jantan  bertanduk besar  serta melingkar-lingkar. Merupakan domba penghasil wool yang sangat baik. Mempunyai 3 tipe yaitu : tipe A bulunya sangat keriting, tipe B bulunya tidak terlalu keriting, tipe C bulunya tidak keriting yang sering disebut Delaire Merino (Blakely dan Bade, 1992).

Domba Rombouillet.  memiliki  ciri badan  besar,  dalam  dan padat, tulang  kuat,  jantan bertanduk sedangkan  yang betina tidak. Digunakan sebagai penghasil  daging dan wol yang cukup baik.(Blakely and Bade, 1992)

Domba Hampshire. Berasal dari Inggris, merupakan tipe  pedaging yang  mempunyai ciri badan padat dan dalam, leher  agak  panjang, kepala besar, telinga besar, warna bulu putih, bagian kaki bawah, muka  dan  bagian  telinga  sebelah  dalam  serta  keliling  mata berwarna coklat kehitaman, tidak bertanduk, telinga besar dan letaknya horisontal, badan besar, tegap, hidup baik dipadang rumput dan mudah beranak (Srigandono, 1991).

Domba Dorsett. Berasal dari Inggris, terkenal sebagi produsen wol dengan ciri-ciri kulit empat persegi panjang, leher sedang dan  dalam,  tanduk istimewa, tanduk jantan subur  dan mempunyai lingkaran. Jantan maupun betina berat badan bisa mencapai lebih dari 100 kg (Sastroamidjojo, 1983).

Domba Licoln. Merupakan domba tipe pedaging yang berbulu lebat, tidak bertanduk sering digunakan untuk perkawinan silang (Srigandono, 1991).

Domba persilangan

Domba Garut. Merupakan hasil persilangan antara domba asli dan domba marini dan domba ekor gemuk. Domba pejantan bertanduk besar melengkung ke belakang seperti spiral tetapi tidak begitu panjang. Pangkal tanduk kanan dan kiri hampir bersatu, tulang tengkorak lebar, sering digunakan untuk aduan, domba betina tidak bertanduk (Huitema, 1986).

Domba Kolombia. Merupakan persilangan antara domba licon dengan domba Rambonillet. Warna putih, muka lebar, tidak bertanduk, mudah beradaptasi (Srigondono, 1991).


DAFTAR PUSTAKA

Blakely, James dan David H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sastroamidjojo .S.M. 1983. Ternak Potong dan Ternak Kerja. CV. Yasaguna. Jakarta.


Alat Reproduksi Ternak Betina

Reproduksi hewan betina adalah suatu proses yang kompleks yang melibatkan seluruh tubuh hewan itu. Sistem reproduksi akan berfungsi bila makhluk hidup khususnya hewan ternak dalam hal ini sudah memasuki sexual maturity atau dewasa kelamin. Setelah mengalami dewasa kelamin, alat-alat reproduksinya akan mulai berkembang dan proses reproduksi dapat berlangsung baik ternak jantan maupun betina. Sistem reproduksi pada betina terdiri atas ovarium dan sistem duktus. Sistem tersebut tidak hanya menerima telur-telur yang diovulasikan oleh ovarium dan membawa telur-telur ke tempat implantasi yaitu uterus, tetapi juga menerima sperma dan membawanya ke tempat fertilisasi yaitu oviduk.

Pada mamalia, ovarium dan bagian duktus dari sistem reproduksi berhubungan satu dengan yang lain dan melekat pada dinding tubuh dengan sebuah seri dari ligamen-ligamen. Ovarium menerima suplai darah dan suplai saraf melalui hilus yang juga melekat pada uterus. Oviduk berada di dalam lipatan mesosalpink, sedangkan mesosalpink melekat pada ligamen ovarium. Ligamen ini melanjutkan diri ke ligamen inguinal, yang homolog dengan gubernakulum testis. Bagian ligamen ini membentuk ligamen bulat pada uterus yang kemudian melebarkan diri dari uterus ke daerah inguinal.

Alat-alat reproduksi betina terletak di dalam cavum pelvis (rongga pinggul). Cavum pelvis dibentuk oleh tulang-tulang sacrum, vertebra coccygea kesatu sampai ketiga dan oleh dua os coxae. Os coxae dibentuk oleh ilium, ischium dan pubis. Secara anatomi alat reproduksi betina dapat dibagi menjadi : ovarium, oviduct, uterus, cervix, vagina dan vulva.

Ovarium
Ovarium adalah organ primer (atau esensial) reproduksi pada betina seperti halnya testes pada hewan. Ovari dapat dianggap bersifat endokrin atau sitogenik (menghasilkan sel) karena mampu menghasilkan hormon yang akan diserap langsung ke dalam peredaran darah, dan juga ovum.

Ovarium merupakan sepasang kelenjar yang terdiri dari ovari kanan yang terletak di belakang ginjal kanan dan ovari kiri yang terletak di belakang ginjal kiri. Ovarium seekor sapi betina bentuknya menyerupai biji buah almond dengan berat rata-rata 10 sampai 20 gram. Sebagai perbandingan, pada sapi jantan dimana ”biji” pejantan berkembang di tubulus seminiferus yang letaknya di dalam pada betina jaringan yang menghasilkan ovum (telur) berada sangat dekat dengan permukaan ovari.

Ovarium terletak di dalam rongga perut berfungsi untuk memproduksi ovum dan sebagai penghasil hormon estrogen, progesteron dan inhibin. Ovarium digantung oleh suatu ligamentum yang disebut mesovarium yang tersusun atas syaraf-syaraf dan pembuluh darah, berfungsi untuk mensuplai makanan yang diperlukan oleh ovarium dan sebagai saluran reproduksi. Ovarium pada preparat praktikum ini berbentuk lonjong bulat.

Fungsi ovarium sendiri adalah memproduksi ovum, penghasil hormon estrogen, progesteron dan inhibin.

Pada semua hewan menyusui mempunyai sepasang ovarium dan mempunyai ukuran yang berbeda-beda tergantung pada species, umur dan masa (stadium) reproduksi hewan betina. Bentuk ovarium tergantung pada golongan hewan:
1.     Pada golongan hewan yang melahirkan beberapa anak dalam satu kebuntingan disebut Polytocous, ovariumnya berbentuk seperti buah murbei, contoh: babi, anjing, kucing
2.     Pada golongan hewan yang melahirkan satu anak dalam satu kebuntingan disebut Monotocous, ovariumnya berbentuk bulat panjang oval, contoh: sapi, kerbau, sedang pada ovarium kuda bebentuknya seperti ginjal.

Ovarium mengandung folikel-folikel yang di dalamnya terdapat masing-masing satu ovum. Pembentukan dan pertumbuhan folikel ini dipengaruhi oleh hormon FSH (Folicle stimulating hormone) yang dihasilkan oleh kelenjar adenohipofise. Folikel di dalam ovarium terdiri dari beberapa tahap yaitu folikel primer, terbentuk sejak masih dalam kandungan dan mengandung oogonium yang dikelilingi oleh satu lapis sel folikuler kecil; folikel sekunder, terbentuk setelah hewan lahir dan sel folikulernya lebih banyak; folikel tertier, terbentuk pada saat hewan mencapai dewasa dan mulai mengalami siklus birahi; dan yang terakhir adalah folikel de Graaf, merupakan folikel terbesar pada ovarium pada waktu hewan betina menjelang birahi.

Folikel de Graaf inilah yang akan siap diovulasikan (peristiwa keluarnya ovum dari folikel) dan jumlahnya hanya satu karena sapi merupakan hewan monotokosa yang menghasilkan satu keturunan setiap kebuntingan. Peristiwa ovulasi diawali dengan robeknya folikel de Graaf pada bagian stigma dipengaruhi oleh hormon LH (Luteinizing hormone) yang dihasilkan oleh kelenjar adenohipifise. LH menyebabkan aliran darah di sekitar folikel meningkat dan menyebabkan dinding olikel pecah. Bekas tempat ovum yang baru keluar disebut corpus haemorragicum yang dapat kemasukan darah akibat meningkatnya aliran darah dan menjadi merah, setelah itu terbentuk corpus luteum (berwarna coklat) yang akan menghasilkan hormon progesteron untuk mempertahankan kebuntingan dan menghambat prostaglandin. Sehingga pada saat bunting tidak terjadi ovulasi karena prostaglandin yang mempengaruhi hormon estrogen dan FSH.

Apabila pembuahan tidak terjadi, corpus luteum bertambah ukurannya di bawah hormon pituitari anterior yaitu prolaktin dan dibentuklah hormon progesteron yang menekan birahi yang berkepanjangan dan memepertahankan kebuntingan (Blakely and Bade, 1998).

Oviduct
Oviduct merupakan saluran yang bertugas untuk menghantarkan sel telur (ovum) dari ovarium ke uterus. Oviduct digantung oleh suatu ligamentum yaitu mesosalpink yang merupakan saluran kecil yang berkelok-kelok dari depan ovarium dan berlanjut di tanduk uterus.

Oviduct terbagi menjadi 3 bagian. Pertama adalah infundibulum, yaitu ujung oviduct yang letaknya paling dekat dengan ovarium. Infundibulum memiliki mulut dengan bentuk berjumbai yang berfungsi untuk menangkap ovum yang telah diovulasikan oleh ovarium. Mulut infundibulum ini disebut fimbria. Salah satu ujungnya menempel pada ovarium sehinga pada saat ovulasi dapat menangkap ovum. Sedangkan lubang infundibulum yang dilewati ovum menuju uterus disebut ostium. Setelah ovum ditangkap oleh fimbria, kemudian menuju ampula yaitu bagian oviduct yang kedua, di tempat inilah akan terjadi fertilisasi. Sel spermatozoa akan menunggu ovum di ampula untuk dibuahi. Panjang ampula merupakan setengah dari panjang oviduct. Ampula bersambung dengan bagian oviduct yang terakhir yaitu isthmus. Bagian yang membatasi antara ampula dengan isthmus disebut ampulary ismich junction. Isthmus dihubungkan langsung ke uterus bagian cornu (tanduk) sehingga di antara keduanya dibatasi oleh utero tubal junction.

Dinding oviduct terdiri atas 3 lapisan yaitu membrana serosa merupakan lapisan terdiri dari jaringan ikat dan paling besar, membrana muscularis merupakan lapisan otot dan membrana mucosa merupakan lapisan yang membatasi lumen.

Fungsi oviduct :
1.menerima sel telur yang diovulasikan oleh ovarium,
2.transport spermatozoa dari uterus menuju tempat pembuahan
3.tempat pertemuan antara ovum dan spermatozoa (fertilisasi)
4.tempat terjadinya kapasitasi spermatozoa
5.memproduksi cairan sebagai media pembuahan dan kapasitasi spermatozoa
6.transport yang telah dibuahi (zigot) menuju uterus.

Menurut Bearden and Fuquay (1997) panjang oviduct untuk kebanyakan spesies ternak adalah 20 sampai 30 cm.

Uterus
Uterus merupakan struktur saluran muskuler yang diperlukan untuk menerima ovum yang telah dibuahi dan perkembangan zigot. Uterus digantung oleh ligamentum yaitu mesometrium yaitu saluran yang bertaut pada dinding ruang abdomen dan ruang pelvis. Dinding uterus terdapat 3 lapisan, lapisan dalam disebut endometrium, lapisan tengah disebut myometrium dan lapisan luar disebut perimetrium.

Uterus terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah cornu uteri atau tanduk uterus. Cornu uteri ini jumlahnya ada 2 dan persis menyerupai tanduk yang melengkung. Cornu uteri merupakan bagian uterus yang berhubungan dengan oviduct. Kedua cornu ini memiliki satu badan uterus yang disebut corpus uteri dan merupakan bagian uterus yang kedua. Corpus uteri berfungsi sebagai tempat perkembangan embrio dan implantasi. Selain itu pada corpus uteri terbentuk PGF2 alfa. Bagian uterus yang ketiga adalah cervix atau leher uterus.

Bentuk-bentuk uterus ada 3, yaitu: 1) uterus bicornus: cornu uteri sangat panjang tetapi corpus uteri sangat pendek. Contoh pada babi. 2) uterus bipartinus: corpus uteri sangat panjang dan di antara kedua cornu terdapat penyekat. Contoh pada sapi cornunya membentuk spiral. 3) uterus duplex: cervixnya terdapat dinding penyekat. Contoh: uterus pada kelinci dan marmut. 4) uterus simple: bentuknya seperti buah pir. Contoh: uterus pada manusia dan primata.

Fungsi uterus: 1) saluran yang dilewati gamet (spermatozoa). Spermatozoa akan membuahi sel telur pada ampula. Secara otomatis untuk mencapai ampulla akan melewati uterus dahulu. 2) tempat terjadinya implantasi. Implantasi adalah penempelan emrio pada endometrium uterus. 3) tempat pertumbuhan dan perkembangan embrio. 4) berperan pada proses kelahiran (parturisi). 5) pada hewan betina yang tidak bunting berfungsi mengatur siklus estrus dan fungsi corpus luteum dengan memproduksi PGF2 alfa.

Di dalam uterus terdapat curuncula yang berfungsi untuk melindungi embrio pada saat ternak bunting. Hasil pengukuran uterus pada praktikum ini, panjang corpus uteri adalah 20 cm, panjang cornu uteri adalah 13 cm. Menurut Lindsay et al., (1982) bahwa uterus pada sapi yang tidak bunting memiliki diameter 5 sampai 6 cm. Perbedaan ini dipengaruhi oleh umur, bangsa ataupun kondisi ternak.

Cervix
Cervix terletak di antara uterus dan vagina sehingga dikatakan sebagai pintu masuk ke dalam uterus. Cervix ini tersusun atas otot daging sphincter. Terdapat lumen cervix yang terbentuk dari gelang penonjolan mucosa cervix dan akan menutup pada saat terjadi estrus dan kelahiran. Cervix menghasilkan cairan yang dapat memberi jalan pada spermatozoa menuju ampula dan untuk menyeleksi sperma.

Selama birahi dan kopulasi, serviks berperan sebagai masuknya sperma. Jika kemudian terjadi kebuntingan saluran uterin itu tertutup dengan sempurna guna melindungi fetus. Beberapa saat sebelum kelahiran, pintu itu mulai terbuka, serviks mengembang, hingga fetus dan membran dapat melaluinya pada saat kelahiran (Blakeli and Bade, 1998).

Fungsi dari cervix adalah menutup lumen uterus sehingga menutup kemungkinan untuk masuknya mikroorganisme ke dalam uterus dan sebagai tempat reservoir spermatozoa.

Vagina
Vagina adalah organ reproduksi hewan betina yang terletak di dalam pelvis di antara uterus dan vulva. Vagina memiliki membran mukosa disebut epitel squamosa berstrata yang tidak berkelenjar tetapi pada sapi berkelenjar. pada bagian kranial dari vagina terdapat beberapa sel mukosa yang berdekatan dengan cervix.

Vagina terdiri dari 2 bagian yaitu vestibulum yang letaknya dekat dengan vulva serta merupakan saluran reproduksi dan saluran keluarnya urin dan yang kedua adalah portio vaginalis cervixis yang letaknya dari batas antara keduanya hingga cervix. Vestibulum dan portio vaginalis cervixis dibatasi oleh suatu selaput pembatas yang disebut himen.

Fungsi dari vagina adalah sebagai alat kopulasi dan tempat sperma dideposisikan; berperan sebagai saluran keluarnya sekresi cervix, uterus dan oviduct; dan sebagai jalan peranakan saat proses beranak. Vagina akan mengembang agar fetus dan membran dapat keluar pada waktunya.

Menurut Toelihere (1981), pada hewan yang tidak bunting panjang vagina sapi mencapai 25,0 sampai 30,0 cm. Variasi ukuran vagina ini tergantung pada jenis hewan, umur dan frekuensi beranak (semakin sering beranak, vagina semakin lebar).

Vulva
Vulva merupakan alat reproduksi hewan betina bagian luar. Vulva terdiri dari dua bagian. Bagian luar disebut labia mayora dan bagian dalamnya disebut labia minora. Labia minora homolog dengan preputium pada hewan jantan sedangkan labia mayora homolog dengan skrotum pada hewan jantan.

Pertautan antara vagina dan vulva ditandai oleh orifis uretral eksternal atau oleh suatu pematang pada posisi kranial terhadap uretral eksteral yaitu himen vestigial. Himen tersebut rapat sehingga mempengaruhi kopulasi. Vulva akan menjadi tegang karena bertambahnya volume darah yang mengalir ke dalamnya.

Klitoris
Klitoris merupakan alat reproduksi betina bagian luar yang homolog dengan gland penis pada hewan jantan yang terletak pada sisi ventral sekitar 1 cm dalam labia. Klitoris terdiri atas dua krura atau akar badan dan kepala (glans). Klitoris terdiri atau jaringan erektil yang tertutup oleh epitel skuamusa berstrata. Selain itu klitoris juga mengandung saraf perasa yang berperan pada saat kopulasi. Klitoris akan berereksi pada hewan yang sedang estrus. Fungsi dari klitoris ini membantu dalam perkawinan.

Daftar Pustaka

Blakely, J. dan D. H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Bearden, J. dan Fuquay John W.1997.Applied Reproductoin Fourth Edition.Printice Hall, Inc. USA.

Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakrta.

Hardjopranjoto, S. 1993. Ilmu Kemajiran pada Ternak. Airlangga University Press, Surabaya.

Toliehere, M.R., 1981. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Penerbit Angkasa, Bandung.

Alat Reproduksi Ternak Jantan


Pada sebagian besar spesies mamalia, organ reproduksi eksternal jantan adalah skrotum dan penis. Organ reproduksi internal terdiri atas gonad yang menghasilkan gamet (sel-sel sperma) dan hormon, kelenjar aksesoris yang mensekresikan produk yang esensial bagi pergerakan sperma, dan sekumpulan duktus yang membawa sperma dan sekresi grandular. Ringkasnya secara anatomi, bagian-bagian alat kelamin jantan terdiri dari; testis, epididymis, ductus deferen, urethra, penis, dan kelenjar-kelenjar asesoris.

Testis
Gonad indiferen sewaktu embrio dini pada betina berdiferensiasi menjadi ovarium, sedangkan pada jantan menjadi testis. Pada semua spesies testis berkembang di dekat ginjal, yaitu pada daerah krista genitalis primitif. Pada mamalia, testis mengalami penurunan, tetap tinggal pada posisi disekitar daerah testis itu berasal. Fungsi testis ada dua macam: yang menghasilkan hormon seks jantandisebut androgen, dan yang menghasilkan gamet jantan disebut sperma. 

Epididymis
Epididymis terdiri dari tiga bagian yaitu caput epididymis atau kepala epididymis, corpus epididymis atau badan epididymis, dan cauda epididymis atau ekor epididymis. Ketiga bagian ini mempunyai fungsi yang berbedada, caput berfungsi sebagai tempat memasakan spermatozoa, corpus berfungsi sebagai transpor atau pengangkutan spermatozoa, cauda berfungsi sebagai tempat penimbunana spermatozoa. 

Ductus Deferen
Ductus deferen merupakan saluran sperma lanjutan dari cauda epididymis sampai ke urethra. Dindingnya tebal mengandung serabut-serabut urat daging yang licin. 
Ampula Ductus Deferen
Ampula ductus deferen adalah ductus deferen an kedua testes setelamelalui canalis inguinalis sampai atas kandung kemih yang lambat laun menjadi membesar. Pembesaran ini disebabkan oleh adanya kelenjar-kelenjar yang ada di dinding ductus deferen, sedang lumennya sedikit meluas.

Urethra
Urethra adalah saluran dari tempat bermuaranya Ampula ductus deferen sampai ujung penis. Urethra merupakan saluran urogenitalis yang berfungsi sebagai tempat lewatnya urine dan semen.
Kelenjar Vesikularis
Kelenjar vesicularis berjumlah sepasang yang terletak di kanan-kiri ampula duktus deferens. Pada ruminansia kelenjar ini besar dan susunannya berlobus-lobus. Saluran keluar dari kelenjar ini bermuara ke dalam urethra, secara umum muaranya menjadi satu dengan ampula sehingga ada 2 muara di kiri dan kanan. Muara ini disebut ostium ejaculatorium. Kadang-kadang muaranya terpisah, yaitu muara kelenjar vesicularis berada di bagian cranial dari kelenjar ampula. Sekresi kelenjar ini banyak mengandung protein, potasium, fruktosa, asam sitrat, asam askorbut, vitamin dan enzim, warnanya kekuning-kuningan karena banyak menagndung flavin dengan pH 5,7-6,2. Sekresi kelenjar vesicularis pada sapi merupakan 50% dari total volume ejakulasi.

Kelenjar Prostata
Pada sapi kelenjar prostata berjumlah sepasang, berbentuk bulat dan tidak berlobus. Kelenjar prostata terdiri dari 2 bagian, badan prosatata dan prostata yang cryptik. Bagian badan prosatata terdapat di belakang ampula dekat diatas urethra pars pelvina, sehingga disebut corpus prostata. Kelenjar prostata berfungsi sebagai penghasil cairan yang encer dan mengandung ion organik (Na, Cl, Ca, Mg) dengan pH lebih besar dari 7,0.

Kelenjar bulbourethralis
Kelenjar bulbourethralis berjumlah sepasang, terdapat di sebelah kanan dan kiri urethra bulbourethralis, dibawah musculus bulbo spongiosus. Pada sapi kelenjar ini sebesar buah kemiri, padat dan mempunyai kapsul. Kelenjar bulbourethralis berfungsi sebagai penghasil getah kental yang berfungsi sebagai pembersih saluran reproduksi dari sisa-sisa urine.

Penis
Penis merupakan organ kopulatoris pada hewan jantan, mempunyai tugas ganda yaitu pengeluaran urine dan peletakan semen ke dalam saluran reproduksi hewan betina. Penis berbentuk silinder panjang dan bersifat fibroelastik atau kenyal. Penis terdiri dari akar atau pangkal, badan penis dan ujung penis atau gland penis. Dalam keadaan relaks ada bagian yang membengkok membentuk huruf S, bagian ini disebut flexera sigmodea. Untuk memanjang dan memendek penis dilengkapi dengan musculus retraktor penis yaitu otot yang dapat merelaks dan mengkerut (kontraksi), dan corpus cavernosum penis yaitu otot yang dapat menegakan penis. Penis mempunyai dua fungsi yaitu untuk menyemprotkan sperma ke dalam alat reproduksi betina dan untuk lewatnya urine.


Kandungan β-Karoten

Vitamin A dan β-karoten kadang-kadang diungkapkan untuk hal yang sama, karena β-karoten di dalam tubuh dikonversi menjadi vitamin A. β-karoten merupakan bagian penting dari karoten. Jika tubuh diberi asupan β-karoten maka tubuh akan membentuk vitamin A sesuai yang diperlukan.

Dari 600 jenis karotenoid yang ada di alam, hanya 10% diantaranya yang mempunyai aktivitas sebagai provitamin A, di antaranya β-karoten. Senyawa ini tergolong aman bagi tubuh bila terasup dalam jumlah yang melebihi kebutuhan tubuh, karena kelebihan ini akan terbuang melalui urin, sedangkan kelebihan vitamin A akan terakumulasi dalam hati.

Kebutuhan vitamin A dapat berubah karena tingkat pertumbuhan, umur, intake kalori, kegiatan fisik, dan keadaan khusus seperti kehamilan dan ibu yang sedang menyusui. Satuan takaran untuk vitamin A yang digunakan saat ini adalah Retinol Equivalent (RE), karena satuan ini lebih tepat serta dapat memberikan gambaran sesungguhnya, termasuk pertimbangan masalah penyerapan karoten serta derajat konversinya menjadi vitamin A.

β-karoten stabil pada pH netral dan pH alkalis, akan tetapi tidak stabil oleh pengaruh pH asam, udara, panas, cahaya, dan oksigen. Susut maksimal akibat pemasakan bisa mencapai 30%.

Penelitian dari National Cancer Institute mengaitkan kandungan tinggi beta karoten dengan pencegahan kanker, karena sifat antioksidannya yang melawan kerja destruktif sel-sel kanker. Karoten membantu sistem kekebalan tubuh yang menghasilkan 'killer cell' alamiah tubuh. Karoten juga baik untuk kesehatan mata. Kekurangan vitamin A atau yang dikenal dalam istilah kedokteran sebagai Avitaminosis A dapat menyebabkan buta ayam atau rabun senja.

Vaksinasi dan Pencegahan Penyakit pada Ayam


Vaksinasi

Vaksin adalah pemberian antigen untuk merangsang sistem kebal menghasilkan antibodi khusus terhadap penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri dan protozoa. Program vaksinasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: (1) prevalensi penyakit di daerah usaha ternak, (2) resiko akan timbulnya penyakit, (3) status kekebalan dari bibit induk, (4) biaya pembuatan dan pemberian vaksin, (5) intensitas dan konsekuensi dari reaksi vaksin yang kurang baik, (6) program penggantian ternak, (7) tersedianya vaksin tertentu, (8) perbandingan untung rugi (B-C ratio) yang menghubungkan antara keuntungan akibat vaksinasi dan kerugian vinansial akibat resiko infeksi dan timbulnya penyakit (Nesheim, 1984).

Berbagai cara pemberian vaksin yang digunakan secara komersial antara lain: (1) vaksnasi in ovo, yaitu pemberian vaksin ke dalam telur pada hari ke 18 masa inkubasi dengan menggunakan sistem inovoject yang dipatenkan, (2) vaksinasi semprot (spray) pasca penetasan dapat diberikan dalam ruang atau mesin penetasan secara massal dengan vaksin aerosol kepada anak ayam umur umur sehari (DOC), (3) suntikan subkutan, dengan vaksin hidup atau vaksin emulsi inaktif dapat diberikan kepada anak ayam, masa pemeliharaan (rearing) dan pada induk (Nesheim, 1984). Pada umumnya injeksi dilakukan secara intramuscular dada atau paha. Akan tetapi cara ini juga mempunyai kelemahan yaitu perlu waktu lama, ayam akan stress, jika penagkapan terlalu kasar, (4) pemberian vaksin melalui tetes mata dan tetes hidung, dapat dilakukan pada anak ayam di tempat penetasan atau pada masa brooding (masa penghangatan) di kandang peternak, (5) pemberian vaksin secara aerosol, dengan menggunakan penyemprot ransel atau listrik, untuk mendapatkan semprotan yang kasar, (6) pemberian vaksin melalui air minum, dapat dilakukan dengan biaya yang lebih murah, akan tetapi kurang efektif terhadap babarapa macam infeksi (Nesheim, 1984).
Vaksin untuk unggas ada dua bentuk, hidup (aktif) dan mati. Vaksin hidup terdiri dari organisme-organisme hidup yang telah dimodifikasi (dilemahkan) sehingga mereka akan berkembang biak di dalam tubuh tanpa menyebabkan penyakit. Organisme-organisme dapat diberikan dengan cara yang bervariasi melalui air minum, penyemprotan, tetes mata atau untuk penyakit marek dengan injeksi intramuskular (Mark, 1993).

Perkembangan imunitas lebih cepat dengan vaksin hidup daripada dengan vaksin mati. Vaksin mati terdiri atas organisme inaktif (mati) yang biasanya disuspensikan dalam emulsi lemak untuk administrasi dengan suntikan. Emulsi tersebut membantu meningkatkan peristiwa lebih panjang pengambilan organisme dari tempat okulasi. Perkembangan immunitas sempurna kira-kirasatu bulan setelah injeksi vaksin mati. Metode vaksinasi yang idealadalah memberi vaksin hidup pertama kali, yang berperan sebagai sistem immunitasprimer, diikuti dengan injeksi vaksin mati, yang memberi level penyokong antibodi pelindung. Prinsip ini digunakan untuk proteksi serangan NewCastel Disease, infectionse bronchitis, dan infectionse bursal disease (Mark, 1993).

Pencegahan penyakit

Penyakit didefinisikan sebagai segala penyimpangan gejala dari keadaan kesehatan yang normal. Hal ini bisa disebabkan oleh mikroorganisme, defisiensi nutrisi, atau stress akibat lingkungan yang tidak menguntungkan (Blakely dan Bade, 1998).

Snot (coryza). Penyakit ini disebabkan berbagai serotipe Hemophilus paragallinarum. Penyakit ini dapt dijumpai secara potensial pada setiap peternakan unggas, tetapi biasanya terdapat di daerah atau negara-negara tertentu sebagai masalah kronis atau musiman. Penularan dapat melalui kontak langsung dengan ayam yang menunjukkan gejala klinis atau carier atau secara tidak langsung melalui alat atau karyawan yang terkontaminasi. Penyebab penyakit ini tidak dapat hidup di luar tubuh induk semang sampai lebih dari 12 jam. Morbiditas kawanan ayam bervariasi dari 1-2 %. Ayam yang secara klinis telah terinfeksi menunjukkan gajala pengeluaran cairan mata yang unilateral atau bilateral dan berlanjut menjadi selulitis fasial di daerah muka dan sinusitis kronis. Pengobatan pada ayam yang belum dewasa digunakan untuk mengobati coryza dan dapat diberikan melalui air minum atau disuntikkan langsung secara Intramuskular. Pencegahan ayam yang belum dewasa dapat digunakan vaksin multivalen inaktif atau bakteri homolog dalam supensi air atau emulsi minyak. Vaksin inaktif dalam dua dosis dapat diberikan dengan suntikan subkutan atau intramuskular (Nesheim, 1984).

Pullorum (berak kapur). Definisi dari pullorum apa anak ayam saja yang memperlihatkan memperlihatkan satu-satunya gejala klinis dari penyakit ini. Beberapa hari setelah menetas, anak ayam yang terserang berhimpit-himpitan, kehilangan selera makan, sulit bernafas dan sering kali mengeluarkan berak putih (berak kapur). Ayam memperlihatkan luka pada organ- organ seperti jantung, hati, limpa, paru-paru, dan saluran pencernaan. Penyebab dari penyakit ini adalah bekteri Salmonella pullorum. Pencegahan pullorum umumnya dilakukan fumigasi terhadap inkubator dan telur yang didetaskan menggunakan gas formaldehide yang diikuti dengan sanitasi yang teliti yang dilakukan diantara periode penetasan (Blakely dan Bade, 1998).

Gumboro (infectous bursal disease). Penyebab penyakit ini terdiri atas dua tipe. Tipe pertama merupakan galur virus avibirna. Tipe ini dikenal dua serotipe virus yaitu yang klasik dan sangat patogenik (WIBD). Tipe kedua adalah galur kalkun yang tidak bersifat patogenik pada ayam. Penularan penyakit gumboro melalui kontak langsung antara lain ayam muda dan ayam yang telah terinfeksi. Peralatan. kandang dan pakaian petugas yang terkontaminasi acap kali merupakan sumber infeksi. Morbiditas ayam-ayam yang terserang secara akut bervariasi (5-50%). Ayam yang terserang menjadi tertekan, berbaring (terlentang), bulunya kasar berkerut dan diare putih. Dehidrasi dan pendarahan muskuler sering dijumpai pada ayam yang telah mati. Pencegahan pada induk ayam yaitu melalui imunisasi (sistem kekebalan) diikuti dengan pemberian booster dalam emulsi minyak. Anak ayam pedagig sebaiknya divaksin dengan vaksin hidup yang dilemahkan yang merangsang pembentukan sistem kebal tubuhnya. Vaksin ringan dapat diberikan pertama kali umur 1- 4 hari (Nesheim, 1984). Penyakit ini ditemukan pertama kali di daerah Gumboro di negara bagian Delaware pada tahun 1962 (Blakely dan bade, 1998).

Tetelo (NewCastel disease). Penyakit ini ditandai dengan kesulitan bernafas, batuk dan bersin. Pada beberapa ayam yang terkena penyakit ini ditemukan tanda-tanda kelainan sistem syaraf (Blakely dan Bade, 1998). Penyebab penyakit tetelo adalah virus yang ada hubungannya dengan galur paramyxovirus unggas tipe I. Virus ND sangat menular. Infeksi dapat terjadi baik melalui penghirupan virus dalam bentuk aerosol maupun pakan atau litter yang tercemar. Penyebaran penyakit virus oleh angin sejauh 5 km, kontak langsung dan tidak langsung dengan bahan yang tercemar (misalnya muntah), burung pengganggu, ayam kampung dan burung peliharaan lainnya merupakan penampung penyakit. Pencegahan penyakit melaui vaksinasi antara lain program yang umum digunakan: infeksi lentogenik pada ayam pedaging dapat dicegah dengan memberikan vaksin atau tetes mata pada anak ayam umur sehari dengan menggunakan vaksin hitcher BI dilanjutkan booster melalui air minum atau secara aerosol. Vaksin berikutnya dilakukan pada umur 24 hari dan 8 minggu dengan vaksin hitcher BI atau vaksin lasota dalam air, di ikuti vaksin emulsi multivalen yang diinaktivasi dengan minyak pada umur 18- 20 minggu (Nesheim, 1984).

Cacar ayam (avian pox). Penyebabnya adalah virus avipox. Penyakit ini dikenali berdasarkan adanya tonjolan hitam pada jengger, pial dan telinga, serta kaki (Blakely dan Bade, 1998). Lesi fokal berwarna merah jambu juga ditemukan pada jengger dan pial serta bagin tubuh lainnya. Suara nafas yang abnormal yang ringan akan terdengar pada kawanan broiler, terutama yang dipelihara dengan ventilasi yang kurang baik. Virus ini ditularkan oleh nyamuk. Penularan dalam suatu kandang dapat terjadi secara kontak langsung antara ayam yang terinfeksi dan yang rentan. Pencegahan yang disarankan melalui imunisasi yang dilaksanakandi daerah endemik dengan vaksin avipox ringan (virus galur ayam) yang diberikan pada umur seminggu (Nesheim, 1984).

Berak darah (coccidiosis). Berbagai species Emeria yang berparasit pada bagian spesifik dari saluran usus ayam menjadi penyebab penyakit ini. Penularan melalui Ookista yang berporulasi merupakan stadium infektif dari siklus hidup dari Coccidiosi. Ookista dapat ditularkan secara mekanik melalui pekerja, peralatan yang tercemat atau dibawa oleh angin yang menyebarkan debu kandang dan litter dalam jangkauan pendek. Tanda-tanda klinis pada Coccidiosis biasanya berjalan akut dan ditandai dengan depresi, bulu kusut dan diare. Unggas yang terinfeksi oleh E. tenella memperlihatkan gejala kepucatan pada jengger dan pial disertai dengan kotoran coecum yang bercampur darah. Pengobatan melalui pemberian lerutan amprolium atau sulfanamida (sulfametazin atau sulfaquinoksalin) dalam air minum. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan pemasangan dan pengaturan sistem pemberian air minum yang sesuai, tingkat ventilasi yang baik, pengaturan kepadatan kandang, penambahan antioksidan dalam pakan, pemberian koksidiostat kimiawi dan ionoforik untuk broiler yang menjalani program pergantian ulang alik (Shuttle) (Nesheim, 1984).

Aspergillosis. Suatu penyakit pernapasan dengan ciri megap-megap dan bernafas cepat, kehilangan nafsu makan, dan rasa haus yang meningkat. Morbiditas mencapai 10% dan mortalitas pada umur 3-12 hari. Infeksi pada otak mengakibatkan ayam merebahkan diri (berbaring) secara lateral, kurang koordinasi dan gemetar (tremor) kasar pada otot (Nesheim, 1984). Wabah biasanya terjadi hanya jika keadaan kelembaban alas (litter) mendukung pertumbuhan jamur. Spora – spora dari jamuur masuk keudara dan dihirup oleh ayam lalu mengakikbatkan aspergillosis (Blakely dan Bade, 1998). Penyebab penynakit ini disebabkan berbagai jenis kapang termasuk Aspergillus fumigatus. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan perbaikan kebersihan kandang tempat bertelur, penggantian alas (litter) dengan plastik akan mengurangi prevalensi aspergillosis (Nesheim, 1984). Selain itu menjaga makanan dan alas (litter) agar tetap rendah kandunganuap airnya dapat mencegah pertumbuhan jamur penynyebab penyakit ini (Blakely dan Bade, 1998). 
 
DAFTAR PUSTAKA
Blakely, J. and D.H. Bade. 1994. Ilmu Peternakan Umum. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Mark Pattison, 1993. The Healt of Poultry, Longman Scientific & Technical. Singapore.

Nesheim, M.C., R.E. Austic and L.E. Card, 1989. Poultry Production. 12th Ed. Lea and Febriger. Philadelpia.


Pertumbuhan dan Perkembangan Ternak

Definisi pertumbuhan yang paling sederhana adalah perubahan ukuran yang meliputi perubahan berat hidup, bentuk, dimensi linear dan komposisi tubuh, termasuk perubahan komponen-komponen tubuh seperti otot lemak, tulang dan organ serta komponen-komponen kimia, terutama air, lemak protein dan abu pada karkas.

Ada tiga proses utama pertumbuhan, yaitu : (1) proses dasar pertumbuhan selular yang meliputi hiperplasia yaitu perbanyakan sel atau produksi sel-sel baru, hipertrofi, yaitu pembesaran sel dan akresi atau pertambahan material struktural nonselular (nonprotoplasmik) ; (2) diferensiasi sel-sel induk di dalam embrio menjadi ectoderm, mesoderm dan endoderm dan (3) kontrol pertumbuhan dan diferensiasi yang melibatkan banyak proses.

Istilah perkembangan selalu berkaitan dengan pertumbuhan. Perkembangan adalah progress yaitu kemajuan gradual kompleksitas yang lebih rendah menjadi kompleksitas yang lebih tinggi, dan ekspansi ukuran, atau perubahan bentuk atau komformasi tubuh, termasuk perubahan struktur tubuh, perubahan kemampuan dan komposisi.

Secara umum, periode pertumbuhan dan perkembangan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : (1) periode prenatal atau sebelum lahir dan periode postnatal atau sesudah lahir. Pertumbuhan dan perkembangan prenatal dapat menjadi tiga periode, berupa proses yang berkesinambungan, yaitu periode ovum, embrio dan fetus. Pertumbuhan postnatal dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode, pertumbuhan sebelum penyapihan dan sesudah penyapihan.

Pertumbuhan kompensatori

Ternak yang kekurangan makanan atau gizi tentu pertumbuhannya melambat atau berhenti dan kehilangan berat, tetapi setelah mendapat makanan yang cukup, ternak tersebut sering mampu tumbuh kembali dengan cepat, bahkan dapat lebih cepat daripada laju pertumbuhan normalnya. Pertumbuhan semacam ini disebut pertumbuhan kompensatori atau pertumbuhan yang bersifat menyusul.

Pada umumnya, makin awal terjadinya stress karena kekurangan gizi dan makin lama periode kekurangan makanan, pertumbuhan kompensatori makin tidak sempurna.

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
1.konsumsi pakan : konsumsi protein dan energi yang lebih tinggi akan menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih cepat.
2.Genotipe ternak
3.ukuran tubuh : bangsa ternak yang besar akan lahir lebih berat , tumbuh lebih cepat dan lebih berat pada saat mencapai kedewasaan dari pada bangsa ternak yang kecil.
4.jenis kelamin : disbanding ternak betina, ternak jantan biasanya tumbuh lebih cepat, dan pada umur yang sama lebih berat.

Faktor yang mempengaruhi komposisi karkas
1.Faktor genetik
Di dalam bangsa ternak yang sama, komposisi karkas dapat berbeda. Bangsa ternak dapat menghasilkan karkas dengan karakteristiknya sendiri.
2.Lingkungan
- faktor fisiologi : factor lingkungan yang berkaitan dengan fisiologi ternak antara lain adalah temperatur atau panas, iklim, dan kelembaban. Temperatur dan kelembaban dapat menyebabkan stress. Toleransi ternak terhadap temperatur lingkungan bervariasi, tergantung pada spesies dan lingkungan hidup.
- Nutrisi
Nutrisi kemungkinan besar merupakan faktor lingkungan terpenting yang mempengaruhi komposisi karkas, terutama terhadap proporsi kadar lemak. Respon ternak terhadap manipulasi nutrisi yang diberikan, juga ikut menentukan hasil akhir komposisi karkas.

Biogas


Menurut Triatmojo (2004), gas bio adalah campuran gas metan, NOx, dan CO2 sebagai hasil perombakan limbah organik secara anaerob di dalam digester atau reaktor oleh campuran berbagai kelompok mikroorganisme diantaranya adalah bakteri hidrolitik atau fermentatif, bakteri penghasil asetat dan bakteri metanogenik, sedangkan menurut Simamora (1989), gas bio adalah campuran beberapa gas, tergolong bahan bakar gas yang merupakan hasil fermentasi dari bahan organik dalam kondisi anaerob, dan gas yang dominan adalah gas metan (CH4) dan gas karbondioksida (CO2). Gas bio memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu berkisar antara 4800 sampai 6700 kkal/m3, untuk gas metan murni (100 %) mempunyai nilai kalor 8900 kkal/m3. Menurut Maramba (1978) produksi gas bio sebanyak 1275 sampai 4318 liter dapat digunakan untuk memasak, penerangan, menyeterika dan mejalankan lemari es untuk keluarga yang berjumlah lima orang per hari.

Bahan gas bio dapat diperoleh dari limbah pertanian yang basah, kotoran hewan (manure), kotoran manusia dan campurannya. Kotoran hewan seperti kerbau, sapi, babi dan ayam telah diteliti untuk diproses dalam alat penghasil gas bio dan hasil yang diperoleh memuaskan (Harahap et al., 1978).

Feses dari semua ternak ruminansia pada hakekatnya potensial untuk pembuatan gas bio, tetapi yang paling baik untuk dikembangkan di masyarakat adalah ternak sapi potong atau sapi dan kerbau, karena jumlah produksi feses per hari cukup banyak (Sihombing, 1979). Limbah organik yang diproses menjadi gas bio selain menghasilkan bahan bakar juga menghasilkan sludge yang kualitasnya sebagai pupuk lebih tinggi dibandingkan dengan kompos dan relatif tidak mengandung bibit penyakit (Apandi, 1979; Junus, 1995).

Feses merupakan bahan yang paling banyak dan cocok digunakan untuk pembuatan gas bio karena mengandung unsur N cukup tinggi, mudah dicampur menjadi bubur atau slurry dan memungkinkan diproses secara kontinyu yaitu dengan pencernaan khusus untuk kandang. Jumlah kotoran ternak per hari yang dihasilkan dapat dipengaruhi oleh jenis pakan, jumlah pakan, berat badan hewan dan sistem pemeliharaan (Harahap et al., 1978). Feses secara umum rata-rata mengandung 72 % sampai 79% N, 61 % sampai 87 % P, dan 82 % sampai 92 % K (Apandi, 1979). Feses juga masih mengandung zat-zat makanan seperti protein, karbohidrat, dan mineral dalam ukuran relatif rendah, tetapi masih dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan pakan untuk ikan (Sihombing, 1979).

Kadar BK untuk memproduksi gas bio yang ideal adalah 7 % sampai 9 % karena kisaran ini merupakan kisaran ideal untuk tumbuhnya bakteri fermentatif anaerob. Menurut Triatmojo (2004), bahan isian yang paling baik untuk menghasilkan gas bio adalah bahan yang mengandung sekitar 7 sampai 9 % bahan kering. Apabila bahan kering lebih dari 9 % maka gas bio yang terbentuk akan sulit disalurkan sehingga akan menyumbat pipa pengeluaran, tetapi apabila bahan kering kurang dari 7 % maka kecepatan produksi gas bio akan menurun. 

Proses fermentasi untuk pembentukan gas bio sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan baik biotis maupun abiotis, selain itu perlu adanya keseimbangan antara tahap non methanogenik dan tahap methanogenik. Faktor-faktor lingkungan yang penting dalam proses yang berlangsung di dalam digester adalah temperatur, konsentrasi padatan, konsentrasi asam-asam volatil, pembentukan scum, konsentrasi scum, konsentrasi nutrien esensial, substansi toksik dan pH (Taiganides, 1980).

Faktor lingkungan biotis meliputi bentuk dan sifat jasad yang aktif dalam proses serta sifat kehidupan antara jasad. Mikroorganisme yang berperan di dalam proses degradasi bahan organik secara anaerob dibagi menjadi tiga kelompok, ketiga kelompok bakteri ini dalam proses pembentukan metana berlaku secara simbiosis, yaitu: 1) kelompok bakteri fermentatif seperti Streptococci, Bacteriodes dan Enterobacteriaceae; 2) kelompok bakteri asetogenik seperti Methanobacillus, Desulfoxibrio; 3) kelompok bakteri methanogenik seperti Methanobacterium, Methanobacillus, Methanosarcina dan Methanococcus. Faktor lingkungan abiotis (non biologis) menyangkut faktor luar yang dapat diatur sesuai dengan kebutuhan, serta secara langsung berpengaruh terhadap kehidupan dan aktivitas jasad, juga terhadap proses-proses yang terjadi kemudian (Suriawiria dan Sastramihardja, 1980).

Temperatur yang baik untuk perkembangan bakteri dalam proses fermentasi adalah 35 °C (Harahap et al., 1978). Produksi biogas yang tinggi adalah dari bahan-bahan atau kotoran yang mengandung C dan N dengan perbandingan 30 (C/N = 30) (Sihombing, 1980). Derajat keasaman (pH) optimal untuk proses fermentasi berkisar antar 7 sampai 8. Proses tersebut akan terhambat apabila pH berada pada 6,5 dan berhenti sama sekali pada pH 5,5 (Taiganides, 1980).

Proses fermentasi anaerobik untuk menghasilkan biogas menurut Apandi (1979) merupakan proses tiga tahap. Segolongan mikroorganisme yang fakultatif anaerob bekerja pada bahan organik yang polimerik secara hidrolisa enzimatis dirombak menjadi monomer-monomer yang larut pada tahap pertama. Monomer-monomer yang larut ini pada tahap kedua diubah menjadi asam organik, terutama asam asetat disamping propionat dan laktat. Asam organik ini merupakan substrat bagi tahap ketiga dari dekomposisi yang dilakukan oleh bakteri methanogenik. Gas methan yang berasal dari asam asetat sekitar 70 %.

Bio gas paling baik diproduksi pada suhu antara 32 dan 37 oC (Anonimus, 1986). Menurut Harahap et al., 1978), bakteri anaerobik bekerja aktif pada pH antara 6,8 sampai 8.


DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 1986. Biogas, Cara Meningkatkan Produksi Gas. Penerbit Bhratara. Jakarta

Apandi, M. 1979. Pemanfaatan Instalasi Gas Bio dalam Bidang Peternakan. Kertas Kerja Seminar Nasional Lembaga Penelitian Peternakan

Harahap, F., Apandi, M. dan Ginting, S. 1978. Teknologi Gas Bio. Pusat Teknologi Pembangunan. Institut Teknologi Bandung. Bandung

Junus, Mohammad. 1995. Teknik Membuat dan Memanfaatkan Unit Gas Bio. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Maramba, F. D. 1978. Biogas and Waste Recycling. Maya Farm. Manila, Philippines

Sihombing, D. T. H. 1979. Teknik Pengelolaan Limbah Kegiatan/Usaha Peternakan. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian, Institut Pertanian Bogor. Bogor

Simamora, S. 1989. Pengelolaan Limbah Peternakan (Animal Waste Management). Teknologi Energi Gasbio. Fakultas Politeknik Pertanian IPB. Bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen P dan K

Surawiria, U. dan Sastramihardja, I. 1980. Faktor Lingkungan Biotis dan Abiotis di dalam Proses Pembentukan Gas Bio serta Kemungkinan Penggunaan Starter Efektif di dalamnya. Kertas Kerja Lokakarya Pengembangan Energi Non Konvesional. Direktorat Jendral Ketenagaan, Departemen Pertambangan dan Energi

Triatmojo, Suharjono. 2004. Penanganan Limbah Peternakan. Rencana Program Kegiatan Pembelajaran Semester (RPKPS). Jurusan Teknologi Hasil Ternak. Fakultas Peternakan UGM, Yogyakarta